MEDAN (Berita): Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) komitmen melakukan perubahan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), bersih, dan transparan demi keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia.
Demikian dikatakan Presiden LIRA, HM. Jusuf Rizal, SE, M.Si, saat menghadiri konferensi pers terkait keberadaan LIRA Indonesia, LIRA Sumut, serta pendeklarasian Himpunan Pengusaha Lira Indonesia (Hiplindo) yang menjadi mitra strategis pemerintahan dan pengusaha dalam membangun perekonomian yang transparan dan akuntabel, Minggu (4/12), di Medan.
Keberadaan Hiplindo, kata Jusuf Rizal, yang juga Ketua Umum Dewa Pimpinan Pusat (DPP) Hiplindo, merupakan organisasi independen yang dikelolah secara propesional, madiri, dan berdiri sendiri, serta memiliki organisasi, dan sejajar posisinya dengan LIRA. “Berdirinya Hiplindo berdasarkan amanat dari hasil munas dengan mengatas namakan lembaga atau badan otonomi dalam himpunan pengusaha LIRA Indonesia,” katanya.
Jusuf Rizal menjelaskan keberadaan lembaga Hiplindo secara otomatis juga menjadi anggota keluarga besar LIRA, tetapi organisasi LIRA tidak otomatis anggota Hiplindo, karena Hiplindo merupakan perkumpulan orang-orang yang memiliki usaha, sementara LIRA adalah orang orang yang bergerak dibidang Civil Society Organization (CSO), jadi mesti dibedakan.
“Kinerja dan target Hiplindo yaitu membangun lebih banyak lagi wira usaha yang berjiwa nasionalis dan patriotis. Maka LIRA punya moto membangun pengusaha yang patriotis dan memiliki jiwa nasionalis.
Dimana organisasi LIRA di seluruh Indonesia sudah berdiri di 33 Provinsi, 417 Kabupaten Kota. Jadi kita tinggal membentuk mengukukannya, karena jaringannya sudah ada disetiap daerah. Sedangkan di Sumut akan dibentuk DPW dan DPD Hiplindo di 33 Kab/Kota, dan kemuadian LIRA akan mengarap sekmen yang lebih luas,” sebutnya.
LIRA, lanjutnya, masuk disemua lini, karena tujuannya adalah membangun pengusaha-pengusaha yang berjiwa nasionalis dan patriotis. “Bangsa kita masih banyak membutuhkan lebih banyak interpliner-interpliner.
Karena dari 240 juta jiwa penduduk Indonesia, kita hanya punya 0,24 persen pengusaha, atau hanya 40 ribu pengusaha di Indonesia. Sementara di negara – negara penduduknya yang lebih kecil dan terbelakang, seperti India, meliliki pengusaha 11 persen.
Sedangkan Singapur dan Malaysia punya 4 – 7 persen pengusaha dinegara meraka. Inilah yang mendorong Hiplindo yang dibidangi oleh LIRA untuk bisa memberikan kontribusi bagi pembangunan dalam rangka membentuk generasi-generasi pengusaha – pengusaha baru, dan juga mempunyai semangat nasionalis dan patriotis,” pungkasnya.
Mengapa LIRA mengunakan kata “patriotis dan nasionalis” kata Presiden LIRA ini, yaitu sebab ia melihat pengusaha – pengusaha di Indonesia yang maju dan mereka mengambil banyak keutungan dari kekayaan alam kita, tapi sering tidak mengembalikan dalam bentuk inspentasi dalam negri.
Sering kali pengusaha di Indonesia membawa hasil uangnya ke luar negri dengan cara menginspentasikan ke negara lain, tapi tidak memberikan multiepek bagsa kita. Jadi yang membuat terpuruk negara Indonesia ini sebagian disebabkan orang-orang kita yang jadi penjajah bagsa kita sendiri.
“Contohnya banyak pengusaha kita membangun apartemen dan membelinya di luar negri. Bayangkan, di Negara Singapura, 70 persen itu apartemen disana rata rata milik warga Negara Indonesia. Hal ini cara beripikir yang tidak benar, sesuai UU pasal 33 seluruh kekayaan alam dan laut seharusnya menjadi kesejahteraan Indonesia.
Tak hanya itu, Sekarang orang mengarap batu bara, nikel, tetapi keuntungan mereka dibawa ke negara lain. Kita hanya dieksplorasi, dan yang lebih rumit lagi dampak dari eksplorasi itu berupa pencemaran lingkunagan kerusakan lingkungan kita yang harus mengkaper ini semua. Ini terjadi karena pengusaha – pengusahanya tidak memiliki semangat nasionalis,” imbuhnya.
Selain itu, LIRA kemudia ingin membangun generasi baru yaitu pengusaha yang belum bisa dan mau belajar agar gabung di organisasi tersebut. “Nah di Hiplindo ini siapapun yang bergabung baik pengusaha pengusaha yang menjadi alat ekspolitasi yang menimbulkan heikot ekonomi, gabung di LIRA, dan kita akan berikan protek, pelayanan hukum.
Bagi pengusaha yang tidak tau masalah hukum kita akan dampingi karna kita bentuk lembaga hukum dan advokasi di LIRA bagi mereka. Kelebihanya adalah salah satunya tergabung di Hiplindo.
Di Sumut sendiri, katanya, potensinya sangat luar biasa, karena sumut tidak hanya meiliki karakter orang-orang yang pikirannya kuat tetapi juga memiliki daya kreatif yang cukup tinggi.
“Jadi di Sumut ini apapun bisa dimainkan, dan harus ditampung menjadi sebuah kekuatan. Mungkin Bulan Januari 2012 ini nantinya kita sudah melantikan pengurus di Sumut dan sekaligus rapat kerja wilayah Hiplindo DPW Sumut.
Kedepan, adanya Hiplindo, kita akan mulai atur menejemennya. Dan kita sudah bilang kepada Gubernur, Bupati, Walikota, sampai Mentri, untuk tidak meberikan kesempatan bagi orang LIRA keculai mereka masuk melalui Hiplindo. Nah ini natinya akan kita atur kerjasamanya antara Gubernur dengan Hiplindo agar bersinergi.
“Saya rasa LIRA di sumut merupakan salah satu barometer dari keberadaan LIRA di seluruh Indonesia, dan LIRA juga mendukung penuh Civil Society Organization (CSO) dalam mendorong perubahan, juga membangun dunia usahanya, membela lembaga hukum advokasi.
Turut hadir dalam konfrensi pers, Gubernur LIRA Sumut Rizaldi Mavi, Wagub Rizal Sihombing SH, Sekretaris Wilayah Oscar Siagian, Sekretaris Kabinet LIRA, Frans X Watu, Direktur Usaha Doddy Hidayat, Direktur LHA Sumut CP Siregar SH, Ketua Hiplindo Ir Eli Robert Hutapea, Sekretaris Hiplindo Ir Pahala Simanjuntak, Ketua DPW Wanita LIRA Masdalena Lubis, Ketua Jaringan Mahali Rivai Lubis, pengusaha property Jakarta Rafles Hutapea.(pan)